Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput  




Rabu 24 April 2019

13:50 WIB

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput
@prfmnews

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput
PRFMNewsChannel

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput
Selasa 05 Februari 2019, 21:48 WIB

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput
Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput




Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput

Redaksi Oleh : Iqbal Pratama
Foto Oleh : PRFM

BANDUNG, (PRFM)  -  Pemilihan umum (Pemilu) Lesgisatif dan Presiden tahun 2019 akan segera dilaksanakan, namun persoalan mengenai pemilih golongan putih (Golput) selalu mewarnai gelaran Pemilu di Indonesia. 


Berdasarkan data dari International for Democracy and Election Asistance tingkat partisipasi Pemilu dalam tiga kali terkahir  sejak 2004 hingga 2014 angkanya naik turun.  Dari rata - rata tingkat partisipasi  Pilpres sejak  tahun 2004 yang mencapai  70 persen  , diketahui kurang lebih 30 persen  masyarakat Indonesia masih memilih Golput.

  

Golput  adalah istilah politik di Indonesia yang berawal dari gerakan protes  para mahasiswa dan pemuda untuk memprotes pelaksanaan Pemilu  tahun 1971 yang merupakan Pemilu pertama di era Orde Baru.Kala itu pesertanya hanya 10 partai politik, jauh lebih sedikit daripada Pemilu 1955 yang diikuti 172 partai politik. Tokoh yang terkenal memimpin gerakan ini adalah Arief Budiman. Namun, pencetus istilah “Golput” ini sendiri adalah Imam Waluyo.


Dipakai istilah “putih” karena gerakan ini menganjurkan agar mencoblos bagian putih di kertas atau surat suara di luar gambar Parpol peserta Pemilu bagi yang datang ke bilik suara. Golongan putih kemudian juga digunakan sebagai istilah lawan bagi Golongan Karya, partai politik dominan pada masa Orde Baru.


Seiring berjalannya waktu, hingga  saat ini makna "Golput" meluas, maknanya  termasuk kepada mereka yang tak datang ke TPS untuk mencoblos dan bukan  tentang surat suara yang tidak sah karena mencoblos di luar kotak dan alasan lainnya.


Pada tahun 2004 tingkat partisipasi pemilih mencapai angka yang cukup tingi yaitu 84,9 persen untuk Pileg dan 68,51 persen untuk Pilpres.  Kemudian di tahun 2009 angka partispasi untuk Pileg menurun mencapai 70,99 namun ada peningkatan menjadi  71,91 persen untuk Pilpres.


Yang terbaru dari Pemilu kemarin di tahun 2014 angka partisapsi untuk Pileg kembali naik mencapai 75,11 persen namun angka ini lebih rendah jika dibandingkan tahun 2004 yang cukup tinggi yaitu 84,9 persen.  Sementara  untuk Pilpres pada 2014 kembali mengalami penurunan menjadi  69,58 jika dibandingkan dengan tahun 2009 yang mencapai  71,91 persen.


Dari data tersebut rata -rata partisipasi pemilih dalam tiga kali terakhir Pemilu berada pada angka 70 persen untuk Pilpres dan 76,7 persen untuk Pemilu legilslatif. Artinya  ada kurang lebih 30 persen warga Indonesia  yang memilih untuk “tidak memilih” dengan kata lain Golput.


Naik turunnya tingkat partisipasi dan masih tingginya tingkat Golput bukan tanpa alasan, sejumlah keraguan publik akan calon yang disodorkan menjadi pertimbangan pemilih untuk Golput. 

 

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput


Isu HAM Pengaruhi Golput

Direktur Hicon Law & Policy Strategy Hifdzil Alim seperti diberitakan oleh Pikiran Rakyat sempat memprediksi angka Golput sekitar 29 – 30 persen masih akan terjadi di tahun 2019 ini .  Ia menyatakan sumbangan golput paling besar datang dari kelompok golput ideologis (rasionalis) dan golput administratif, meliputi pegiat hak asasi manusia, pendukung Ahok, pegiat gender, dan pemilih yang jenuh.


Menurutnya  Golput datang dari pegiat isu berkaitan dengan kekecewaan terhadap pemerintah Joko Widodo yang mengingkari janjinya untuk menuntaskan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Kekecewaan dalam konteks lain di bidang hak asasi manusia ditujukan kepada calon presiden Prabowo Subianto yang dianggap bagian dari pelanggaran HAM.


Adapun pendukung Ahok, memilih golput sebagai respon negatif atas keberadaan Ma’ruf Amin sebagai calon Wakil Presiden, yang nota bene sebagai bagian dari orang yang menjatuhkan Ahok dari tampuk kekuasaan gubernur DKI Jakarta dan diadili di pengadilan.


Sedangkan Sandiaga Uno, bukan alternatif pilihan mereka karena sosok ini menjadi penantang Ahok dalam Pilkada Jakarta. Adapun pegiat gender membaca adanya komitmen yang rendah dari dua pasangan calon presiden dalam merespons isu-isu tentang gender, dan pandangannya yang dangkal tentang masa depan persoalan ini.


Khusus pemilih yang jenuh, mereka cenderung muak melihat gaya kampanye dua pasangan calon Presiden dan timnya yang tidak kreatif. Kepala Departemen Politik Hicon Law & Policy, Puguh Windrawan menambahkan, isu HAM diperkirakan menyumbang paling besar bagi pemilih untuk golput. “Mereka paling kecewa dengan kinerja Joko Widodo yang tidak menuntaskan kasus-kasus hak asasi manusia maupun sosok Prabowo dalam kaitan dengan hak asasi manusia,” ujar Puguh Windrawan dilansir Pikiran-Rakyat.com. 


Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput

 

BERITA TERKAIT


Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput
 

BERITA PILIHAN


Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput

 

BERITA LAINNYA

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput

300 Personel Gabungan Bersihan Sisa Lumpur Bekas Banjir di Andir
Rabu 24 April 2019


Harga Bumbu Dapur Alami Kenaikan Jelang Ramadhan
Rabu 24 April 2019 Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput Bila Tidak Puas Dengan Hasil KPU, Ketua MUI Jabar: Ada Langkah Konstitusional
Rabu 24 April 2019 Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput Bawa 19 Pemain ke Samarinda, Pengamat: Radovic Sudah Perihitungkan Baik Burunya
Rabu 24 April 2019 Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput Dijamu Mantan dan Belum Pernah Menang, Lawan Borneo Jadi Laga Berat Persib
Rabu 24 April 2019 Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput Waspadai Semua Pemain! Gomez Pelatih yang Sarat Akan Kejutan
Rabu 24 April 2019 Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput Dijamu Mantan dan Belum Pernah Menang, Lawan Borneo Jadi Laga Berat Persib
Rabu 24 April 2019 Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput

 

 

BERITA TERKAIT

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput
Selasa 05 Februari 2019, 21:48 WIB

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput
Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput


Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput

Redaksi Oleh : Iqbal Pratama
Sumber Foto : PRFM


BANDUNG, (PRFM)  -  Pemilihan umum (Pemilu) Lesgisatif dan Presiden tahun 2019 akan segera dilaksanakan, namun persoalan mengenai pemilih golongan putih (Golput) selalu mewarnai gelaran Pemilu di Indonesia. 


Berdasarkan data dari International for Democracy and Election Asistance tingkat partisipasi Pemilu dalam tiga kali terkahir  sejak 2004 hingga 2014 angkanya naik turun.  Dari rata - rata tingkat partisipasi  Pilpres sejak  tahun 2004 yang mencapai  70 persen  , diketahui kurang lebih 30 persen  masyarakat Indonesia masih memilih Golput.

  

Golput  adalah istilah politik di Indonesia yang berawal dari gerakan protes  para mahasiswa dan pemuda untuk memprotes pelaksanaan Pemilu  tahun 1971 yang merupakan Pemilu pertama di era Orde Baru.Kala itu pesertanya hanya 10 partai politik, jauh lebih sedikit daripada Pemilu 1955 yang diikuti 172 partai politik. Tokoh yang terkenal memimpin gerakan ini adalah Arief Budiman. Namun, pencetus istilah “Golput” ini sendiri adalah Imam Waluyo.


Dipakai istilah “putih” karena gerakan ini menganjurkan agar mencoblos bagian putih di kertas atau surat suara di luar gambar Parpol peserta Pemilu bagi yang datang ke bilik suara. Golongan putih kemudian juga digunakan sebagai istilah lawan bagi Golongan Karya, partai politik dominan pada masa Orde Baru.


Seiring berjalannya waktu, hingga  saat ini makna "Golput" meluas, maknanya  termasuk kepada mereka yang tak datang ke TPS untuk mencoblos dan bukan  tentang surat suara yang tidak sah karena mencoblos di luar kotak dan alasan lainnya.


Pada tahun 2004 tingkat partisipasi pemilih mencapai angka yang cukup tingi yaitu 84,9 persen untuk Pileg dan 68,51 persen untuk Pilpres.  Kemudian di tahun 2009 angka partispasi untuk Pileg menurun mencapai 70,99 namun ada peningkatan menjadi  71,91 persen untuk Pilpres.


Yang terbaru dari Pemilu kemarin di tahun 2014 angka partisapsi untuk Pileg kembali naik mencapai 75,11 persen namun angka ini lebih rendah jika dibandingkan tahun 2004 yang cukup tinggi yaitu 84,9 persen.  Sementara  untuk Pilpres pada 2014 kembali mengalami penurunan menjadi  69,58 jika dibandingkan dengan tahun 2009 yang mencapai  71,91 persen.


Dari data tersebut rata -rata partisipasi pemilih dalam tiga kali terakhir Pemilu berada pada angka 70 persen untuk Pilpres dan 76,7 persen untuk Pemilu legilslatif. Artinya  ada kurang lebih 30 persen warga Indonesia  yang memilih untuk “tidak memilih” dengan kata lain Golput.


Naik turunnya tingkat partisipasi dan masih tingginya tingkat Golput bukan tanpa alasan, sejumlah keraguan publik akan calon yang disodorkan menjadi pertimbangan pemilih untuk Golput. 

 

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput


Isu HAM Pengaruhi Golput

Direktur Hicon Law & Policy Strategy Hifdzil Alim seperti diberitakan oleh Pikiran Rakyat sempat memprediksi angka Golput sekitar 29 – 30 persen masih akan terjadi di tahun 2019 ini .  Ia menyatakan sumbangan golput paling besar datang dari kelompok golput ideologis (rasionalis) dan golput administratif, meliputi pegiat hak asasi manusia, pendukung Ahok, pegiat gender, dan pemilih yang jenuh.


Menurutnya  Golput datang dari pegiat isu berkaitan dengan kekecewaan terhadap pemerintah Joko Widodo yang mengingkari janjinya untuk menuntaskan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Kekecewaan dalam konteks lain di bidang hak asasi manusia ditujukan kepada calon presiden Prabowo Subianto yang dianggap bagian dari pelanggaran HAM.


Adapun pendukung Ahok, memilih golput sebagai respon negatif atas keberadaan Ma’ruf Amin sebagai calon Wakil Presiden, yang nota bene sebagai bagian dari orang yang menjatuhkan Ahok dari tampuk kekuasaan gubernur DKI Jakarta dan diadili di pengadilan.


Sedangkan Sandiaga Uno, bukan alternatif pilihan mereka karena sosok ini menjadi penantang Ahok dalam Pilkada Jakarta. Adapun pegiat gender membaca adanya komitmen yang rendah dari dua pasangan calon presiden dalam merespons isu-isu tentang gender, dan pandangannya yang dangkal tentang masa depan persoalan ini.


Khusus pemilih yang jenuh, mereka cenderung muak melihat gaya kampanye dua pasangan calon Presiden dan timnya yang tidak kreatif. Kepala Departemen Politik Hicon Law & Policy, Puguh Windrawan menambahkan, isu HAM diperkirakan menyumbang paling besar bagi pemilih untuk golput. “Mereka paling kecewa dengan kinerja Joko Widodo yang tidak menuntaskan kasus-kasus hak asasi manusia maupun sosok Prabowo dalam kaitan dengan hak asasi manusia,” ujar Puguh Windrawan dilansir Pikiran-Rakyat.com. 


 

BERITA LAINNYA



Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput

Harga Bumbu Dapur Alami Kenaikan Jelang Ramadhan
Rabu 24 April 2019
Kota Bandung


Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput

 

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput  TWITER @prfmnews





 

BERITA PILIHAN

 

Tiga Kali Pilpres , 30 Persen Masih Memilih Golput