Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan  




Rabu 17 Oktober 2018

13:20 WIB

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan
@prfmnews

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan
PRFMNewsChannel

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan
Kamis 27 September 2018, 14:57 WIB
Kota Bandung

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan
Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan




Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan

Redaksi Oleh : Tommy Riyadi
Foto Oleh : Tommy Riyadi-PRFM

BANDUNG, (PRFM) - Warga kota Bandung, Anda tentu mengetahui Terminal Bus Cicaheum ? Ya, terminal bus yang kerap disebut Stamplat Cicaheum itu terletak di jalan Jenderal Ahmad Yani Kelurahan Cicaheum Kecamatan Kiaracondong tersebut menjadi salah satu fasilitas umum yang amat lekat dengan perkembangan kota Bandung.

Terletak di atas lahan seluas 11.000 m2, terminal ini di bangun tahun 1976 dengan tujuan memberikan pelayanan bus yang membawa penumpang dari kota Bandung menuju arah timur seperti Garut, Tasikmalaya, Cirebon, Indramayu, bahkan sampai ke kota kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta Bali. Dalam perjalanannya, sejak didirikan hingga saat ini, terminal yang dahulu sering dipadati penumpang menjelang Idul Fitri, baru direnovasi pada tahun 1986. Saat ini, kapasitas statis terminal legendaris ini bisa menampung 70 bus (untuk terminal utama), dan sekitar 200 kendaraan ukuran kecil (angkot) untuk sub terminal.

Namun seiring berjalannya waktu, terminal legendaris ini semakin ditinggalkan penumpangnya. Saat ini, puluhan armada bus yang beroperasi di Cicaheum hanya mampu mengangkut sekira 1000 sampai 1500 penumpang saja yang diberangkatkan setiap harinya selama 24 jam.

Adalah Asep Suwarman, pensiunan Pegawai Dishub yang selama 18 tahun mengabdi, saat itu masih bernama Dinas Lalulintas Angkutan Jalan Raya (DLLAJR) menjadi salah satu saksi hidup perjalanan Terminal Bus Favorit pemudik ini.

Asep menuturkan, pada masa jayanya Terminal Cicaheum diisi sedikitnya 56 Perusahaan Otobus (PO) yang aktif dulu 56 PO dengan 200-300 armada.

“Sekarang mah tinggal 29 PO dengan armada yang aktif sekira 150 bus saja,” jelas Asep saat ditemui di Terminal Cicaheum, Kamis (27/9/2018)

Pria yang saat ini menjadi salah seorang pengurus PO Bus itu menambahkan, sejak awal berdiri memang terminal Cicaheum dibangun untuk melayani rute ke arah timur kota Bandung, dan rute dalam kota untuk angkot dan bus DAMRI. 

“Pernah melayani penumpang bus hingga rata rata 5 ribu penumpang pada siang hari di medio 1985-1990 an atau sebelum ada tol Cipularang, dan lebih dari 5 ribu pada malam hari. Penumpang membludak pada saat arus mudik balik yang mencapai rata rata 10 ribu per hari nya dengan durasi dua sampai 5 menit jadwal keberangkatan setiap bus,” jelasnya

Kini, rencana reaktifasi jalur kereta sejumlah rute, semakin membuat masa depan terminal Cicaheum suram.

Kepala Terminal Cicaheum, Roni Hermanto menuturkan, saat ini saja sejumlah perusahaan bus yang armadanya melayani rute dari cicaheum ke sejumlah kota di wilayah timur kota Bandung sudah kesulitan bersaing dengan moda angkutan lainnya seperti motor dan persewaan kendaraan.

“Terlebih lagi jika reaktifasi jadi dilaksanakan, harapan mendapat penumpang seperti jaman kejayaan terminal cicaheum dahulu, semakin sulit,” katanya. 

Sempat muncul harapan baru, saat Pemerintah Kota Bandung di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil mewacanakan pembangunan dan renovasi Terminal Cicaheum. Saat itu, Emil berencana menyulap Terminal menjadi tempat yang lebih nyaman, dan bukan hanya berfungsi sebagai fasilitas kedatangan dan keberangkatan Bus antar kota saja. Emil yang kini menjabat Gubernur Jawa Barat berencana memadukan fungsi terminal dengan fasilitas pendukung lainnya seperti pusat perbelanjaan, dan juga menjadi terminal Light Rapid Transit (LRT), dengan berbagai macam fasilitas yang membuat nyaman pengunjungnya. 

Namun rencana tersebut bukan tanpa kendala, karena Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan justru berkehendak lain, yaitu mengambil alih pengelolaan Terminal tipe A sehingga kabupaten/kota hanya mengelola tipe C saja.

“Kita tinggal menunggu kebijakan dari pemerintah saja, baik dari kota Bandung, Propinsi, maupun kementerian. Dalam beberapa tahun terakhir ada rencana pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan akan mengambil alih pengelolaan terminal tipe A di kota dan kabupaten,” jelas Roni

Namun Roni pun tidak menjamin alih kelola tersebut nantinya bisa mengembalikan kejayaan Terminal Cicaheum jika tidak dibarengi dengan kebijakan lain yang mampu mengalihkan penumpang dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.

”Kalau pun itu terjadi, kami tidak berani menjamin terminal ini akan kembali menjadi primadona para penumpang. Ini sedang kami tunggu keputusannya. Masalah pembangunan, hingga kini masih belum bisa di realisasikan karena jika di bangun pun nantinya akan bermasalah kalau pada akhirnya di ambil alih Kementerian Perhubungan,”

Meski kondisi terminal sudah semakin memprihatinkan, Roni memastikan semua pelayanan hingga kini masih berjalan normal dan tidak ada perubahan. Bahkan Dinas Perhubungan kota Bandung dengan sumber daya yang ada, tetap berupaya menata terminal menjadi lebih nyaman untuk para calon penumpang.

Terlepas dari persaingan antar moda transportasi yang semakin kencang dan sulit di hindari, Roni masih menyimpan harapan yang besar tentang keberadaan Terminal Cicaheum. Ia berharap, upaya sosialisasi penggunaan kendaraan umum terus digencarkan semua pihak, dan bukan hanya pihaknya saja.

“Kita juga berharap upaya sosialisasi penggunaan kendaraan umum terus gencar di lakukan. Jika tidak, kami khawatir nanti terminal ini hanya akan menjadi bagian dari kenangan saja buat anak cucu, bahwa di sini dulu pernah ada sebuah terminal bus,” pungkas Roni

Keberadaan terminal Cicaheum, atau pun terminal serupa yang lainnya suka atau pun tidak, masih di butuhkan sebagian masyarakat di tengah persaingan moda transportasi. Namun jika tidak ada kebijakan yang mampu meredam itu, maka kekhawatiran Kepala Terminal Cicaheum Roni Hermanto, bisa menjadi kenyataan. Sebab, saat ini saja kondisi terminal bersejarah itu sudah tidak layak. Ibarat pepatah, hidup segan mati pun enggan.



Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan

 

BERITA TERKAIT


Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan
 

BERITA PILIHAN


Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan

 

BERITA LAINNYA

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan

Danlanud Husein Sastranegara Terima Kunjungan Angkatan Udara Filipina
Rabu 17 Oktober 2018


Dewan Apresiasi Langkah Pemkot Bandung untuk Antisipasi Banjir
Rabu 17 Oktober 2018 Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan Ini Persiapan Kecematan Gedebage untuk Mengantisipasi Banjir di Musim Hujan
Rabu 17 Oktober 2018 Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan Bandung Raya Diprediksi Hujan Ringan Pada Siang Hingga Malam Nanti
Rabu 17 Oktober 2018 Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan Youtube Tak Bisa Diakses, #YoutubeDown Jadi Trending Topic
Rabu 17 Oktober 2018 Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan Proyek Pelebaran Drainase di Rancaekek Sudah Capai 70 Persen
Rabu 17 Oktober 2018 Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan UMP 2019 Naik 8,03 Persen
Rabu 17 Oktober 2018 Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan

 

 

BERITA TERKAIT

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan
Kamis 27 September 2018, 14:57 WIB
Kota Bandung

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan
Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan


Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan

Redaksi Oleh : Tommy Riyadi
Sumber Foto : Tommy Riyadi-PRFM


BANDUNG, (PRFM) - Warga kota Bandung, Anda tentu mengetahui Terminal Bus Cicaheum ? Ya, terminal bus yang kerap disebut Stamplat Cicaheum itu terletak di jalan Jenderal Ahmad Yani Kelurahan Cicaheum Kecamatan Kiaracondong tersebut menjadi salah satu fasilitas umum yang amat lekat dengan perkembangan kota Bandung.

Terletak di atas lahan seluas 11.000 m2, terminal ini di bangun tahun 1976 dengan tujuan memberikan pelayanan bus yang membawa penumpang dari kota Bandung menuju arah timur seperti Garut, Tasikmalaya, Cirebon, Indramayu, bahkan sampai ke kota kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta Bali. Dalam perjalanannya, sejak didirikan hingga saat ini, terminal yang dahulu sering dipadati penumpang menjelang Idul Fitri, baru direnovasi pada tahun 1986. Saat ini, kapasitas statis terminal legendaris ini bisa menampung 70 bus (untuk terminal utama), dan sekitar 200 kendaraan ukuran kecil (angkot) untuk sub terminal.

Namun seiring berjalannya waktu, terminal legendaris ini semakin ditinggalkan penumpangnya. Saat ini, puluhan armada bus yang beroperasi di Cicaheum hanya mampu mengangkut sekira 1000 sampai 1500 penumpang saja yang diberangkatkan setiap harinya selama 24 jam.

Adalah Asep Suwarman, pensiunan Pegawai Dishub yang selama 18 tahun mengabdi, saat itu masih bernama Dinas Lalulintas Angkutan Jalan Raya (DLLAJR) menjadi salah satu saksi hidup perjalanan Terminal Bus Favorit pemudik ini.

Asep menuturkan, pada masa jayanya Terminal Cicaheum diisi sedikitnya 56 Perusahaan Otobus (PO) yang aktif dulu 56 PO dengan 200-300 armada.

“Sekarang mah tinggal 29 PO dengan armada yang aktif sekira 150 bus saja,” jelas Asep saat ditemui di Terminal Cicaheum, Kamis (27/9/2018)

Pria yang saat ini menjadi salah seorang pengurus PO Bus itu menambahkan, sejak awal berdiri memang terminal Cicaheum dibangun untuk melayani rute ke arah timur kota Bandung, dan rute dalam kota untuk angkot dan bus DAMRI. 

“Pernah melayani penumpang bus hingga rata rata 5 ribu penumpang pada siang hari di medio 1985-1990 an atau sebelum ada tol Cipularang, dan lebih dari 5 ribu pada malam hari. Penumpang membludak pada saat arus mudik balik yang mencapai rata rata 10 ribu per hari nya dengan durasi dua sampai 5 menit jadwal keberangkatan setiap bus,” jelasnya

Kini, rencana reaktifasi jalur kereta sejumlah rute, semakin membuat masa depan terminal Cicaheum suram.

Kepala Terminal Cicaheum, Roni Hermanto menuturkan, saat ini saja sejumlah perusahaan bus yang armadanya melayani rute dari cicaheum ke sejumlah kota di wilayah timur kota Bandung sudah kesulitan bersaing dengan moda angkutan lainnya seperti motor dan persewaan kendaraan.

“Terlebih lagi jika reaktifasi jadi dilaksanakan, harapan mendapat penumpang seperti jaman kejayaan terminal cicaheum dahulu, semakin sulit,” katanya. 

Sempat muncul harapan baru, saat Pemerintah Kota Bandung di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil mewacanakan pembangunan dan renovasi Terminal Cicaheum. Saat itu, Emil berencana menyulap Terminal menjadi tempat yang lebih nyaman, dan bukan hanya berfungsi sebagai fasilitas kedatangan dan keberangkatan Bus antar kota saja. Emil yang kini menjabat Gubernur Jawa Barat berencana memadukan fungsi terminal dengan fasilitas pendukung lainnya seperti pusat perbelanjaan, dan juga menjadi terminal Light Rapid Transit (LRT), dengan berbagai macam fasilitas yang membuat nyaman pengunjungnya. 

Namun rencana tersebut bukan tanpa kendala, karena Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan justru berkehendak lain, yaitu mengambil alih pengelolaan Terminal tipe A sehingga kabupaten/kota hanya mengelola tipe C saja.

“Kita tinggal menunggu kebijakan dari pemerintah saja, baik dari kota Bandung, Propinsi, maupun kementerian. Dalam beberapa tahun terakhir ada rencana pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan akan mengambil alih pengelolaan terminal tipe A di kota dan kabupaten,” jelas Roni

Namun Roni pun tidak menjamin alih kelola tersebut nantinya bisa mengembalikan kejayaan Terminal Cicaheum jika tidak dibarengi dengan kebijakan lain yang mampu mengalihkan penumpang dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.

”Kalau pun itu terjadi, kami tidak berani menjamin terminal ini akan kembali menjadi primadona para penumpang. Ini sedang kami tunggu keputusannya. Masalah pembangunan, hingga kini masih belum bisa di realisasikan karena jika di bangun pun nantinya akan bermasalah kalau pada akhirnya di ambil alih Kementerian Perhubungan,”

Meski kondisi terminal sudah semakin memprihatinkan, Roni memastikan semua pelayanan hingga kini masih berjalan normal dan tidak ada perubahan. Bahkan Dinas Perhubungan kota Bandung dengan sumber daya yang ada, tetap berupaya menata terminal menjadi lebih nyaman untuk para calon penumpang.

Terlepas dari persaingan antar moda transportasi yang semakin kencang dan sulit di hindari, Roni masih menyimpan harapan yang besar tentang keberadaan Terminal Cicaheum. Ia berharap, upaya sosialisasi penggunaan kendaraan umum terus digencarkan semua pihak, dan bukan hanya pihaknya saja.

“Kita juga berharap upaya sosialisasi penggunaan kendaraan umum terus gencar di lakukan. Jika tidak, kami khawatir nanti terminal ini hanya akan menjadi bagian dari kenangan saja buat anak cucu, bahwa di sini dulu pernah ada sebuah terminal bus,” pungkas Roni

Keberadaan terminal Cicaheum, atau pun terminal serupa yang lainnya suka atau pun tidak, masih di butuhkan sebagian masyarakat di tengah persaingan moda transportasi. Namun jika tidak ada kebijakan yang mampu meredam itu, maka kekhawatiran Kepala Terminal Cicaheum Roni Hermanto, bisa menjadi kenyataan. Sebab, saat ini saja kondisi terminal bersejarah itu sudah tidak layak. Ibarat pepatah, hidup segan mati pun enggan.



 

BERITA LAINNYA



Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan

 

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan  TWITER @prfmnews





 

BERITA PILIHAN

 

Terminal Cicaheum, Hidup Segan Mati Pun Enggan