Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan  




Selasa 12 November 2019

03:29 WIB

Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan
@prfmnews

Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan
PRFMNewsChannel

Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan
Rabu 16 Oktober 2019, 18:44 WIB
DPR RI
Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan
Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan




Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

Redaksi Oleh : Indra Kurniawan
Foto Oleh : Pikiran Rakyat/dok

BANDUNG, (PRFM) - Memaknai peringatan Hari Parlemen Indonesia yang jatuh setiap tanggal 16 Oktober, Anggota DPR RI Netty Prasetiyani menyampaikan gagasannya tentang perempuan dan Parlemen. 

Menurut Netty, keduanya memiliki korelasi yang erat, politik memberikan dampak yang begitu besar dalam setiap aspek kehidupan. Sisi lain, andil perempuan sangat dibutuhkan dalam melahirkan kebijakan publik yang representatif bagi kaumnya.

Netty mengatakan, sampai hari ini stereotype seperti "dapur, kasur dan sumur" tak jarang disematkan kepada perempuan, dan masih kuat melekat di masyarakat. 

Bahkan, tidak sedikit orang yang mengaitkannya dengan doktrin agama, sehingga melabelkan perempuan yang keluar dari tiga tempat tersebut sebagai perempuan yang salah arah.

Kendati demikian, ia berpendapat peranan perempuan tidak sesederhana itu. Sebab stereotype yang ada saat ini amat dipengaruhi kebijakan negara. 

"Sebut saja harga bahan kebutuhan pokok, air bersih, listrik, kesehatan anak, kecerdasan anak dan risiko kematian ibu dalam proses persalinan. Semua itu tidak dapat dilepaskan dari kebijakan yang dihasilkan proses politik," jelas Netty seperti dilansir keterangan resmi DPR RI, Rabu (16/10/2019).

Karenanya, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mempertanyakan bagaimana mungkin perempuan tidak terlibat dalam ruang publik dan politik. Negara membutuhkan andil dan karya perempuan untuk melahirkan kebijakan yang ramah bagi perempuan, anak, keluarga dan seluruh elemen bangsa.

Netty menyatakan, partisipasi perempuan adalah sebuah keniscayaan untuk  kehidupan yang lebih baik dan berkeadilan, bukan sekedar menuntut persamaan hak.

Di sisi lain, lanjut Netty, sampai hari ini angka kematian bayi maupun ibu dan rerata lama sekolah perempuan masih rendah. Sementara, jumlah keluarga pra sejahtera, tingkat kekerasan terhadap anak dan perempuan, serta kasus perdagangan perempuan dan jumlah pekerja anak di Indonesia juga masih tergolong tinggi.

Dengan demikian, sambungnya, kehadiran perempuan di parlemen, baik di tingkat kota/kabupaten, provinsi dan nasional diharapkan dapat memberikan kontribusi penyelesaian persoalan-persoalan krusial menyangkut perempuan, anak dan keluarga. 

“Kiprah perempuan di Parlemen harus memastikan hadirnya kebijakan publik pro rakyat,” terangnya.

Dengan tuntutan seperti itu, kata Netty yang pernah menjadi Ketua P2TP2A Jawa Barat, perempuan di Parlemen harus terus meningkatkan kualitas, kapasitas dan kompetensi, agar perannya dapat memberi manfaat bagi banyak orang. 

“Saat ini baru 119 perempuan dari total 575 Anggota DPR. Perlu upaya serius dari pemerintah, partai politik, dan elemen masyarakat guna meningkatkan jumlah perempuan anggota legislatif di DPR,” harapnya.










 

BERITA TERKAIT


Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan
 

BERITA PILIHAN


Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

 

BERITA LAINNYA

Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

Renovasi Pasar Kosambi Rampung Bulan November Ini
Senin 11 November 2019


Lima Perguruan Tinggi Bandung Jalin Kerja Sama dengan PT HBM
Senin 11 November 2019 Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan Persib vs Arema FC, Polres Bandung Siagakan Personil di Jalur Sekitar Stadion
Senin 11 November 2019 Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan Disnakertrans Jabar: UMP Merupakan Jaring Pengaman Pekerja
Senin 11 November 2019 Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan Polda Jabar Siap Amankan Pertandingan Persib vs Arema FC
Senin 11 November 2019 Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan Oknum PN Bandung Diamankan Bersama Komplotan Pencuri Mobil dan Pemalsu STNK
Senin 11 November 2019 Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan Nasib Fakhri Husaini Bersama Timnas U-19 Masih Belum Pasti
Senin 11 November 2019 Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

 

 

BERITA TERKAIT


Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

Rancangan Awal RPJMN 2020-2024 Mulai Disusun
Rabu 21 Agustus 2019, 22:01 WIB Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

Seluruh Fraksi DPR RI Sepakat Revisi UU PPP
Jumat 30 Agustus 2019, 16:31 WIB Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

Daftar Anggota DPR RI Asal Jabar Periode 2019-2024
Minggu 01 September 2019, 17:00 WIB Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

DPR Desak Pemerintah Atasi Defisit DJS Kesehatan 2019
Selasa 03 September 2019, 14:51 WIB

Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan
Rabu 16 Oktober 2019, 18:44 WIB
DPR RI

Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan
Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan


Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

Redaksi Oleh : Indra Kurniawan
Sumber Foto : Pikiran Rakyat/dok


BANDUNG, (PRFM) - Memaknai peringatan Hari Parlemen Indonesia yang jatuh setiap tanggal 16 Oktober, Anggota DPR RI Netty Prasetiyani menyampaikan gagasannya tentang perempuan dan Parlemen. 

Menurut Netty, keduanya memiliki korelasi yang erat, politik memberikan dampak yang begitu besar dalam setiap aspek kehidupan. Sisi lain, andil perempuan sangat dibutuhkan dalam melahirkan kebijakan publik yang representatif bagi kaumnya.

Netty mengatakan, sampai hari ini stereotype seperti "dapur, kasur dan sumur" tak jarang disematkan kepada perempuan, dan masih kuat melekat di masyarakat. 

Bahkan, tidak sedikit orang yang mengaitkannya dengan doktrin agama, sehingga melabelkan perempuan yang keluar dari tiga tempat tersebut sebagai perempuan yang salah arah.

Kendati demikian, ia berpendapat peranan perempuan tidak sesederhana itu. Sebab stereotype yang ada saat ini amat dipengaruhi kebijakan negara. 

"Sebut saja harga bahan kebutuhan pokok, air bersih, listrik, kesehatan anak, kecerdasan anak dan risiko kematian ibu dalam proses persalinan. Semua itu tidak dapat dilepaskan dari kebijakan yang dihasilkan proses politik," jelas Netty seperti dilansir keterangan resmi DPR RI, Rabu (16/10/2019).

Karenanya, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mempertanyakan bagaimana mungkin perempuan tidak terlibat dalam ruang publik dan politik. Negara membutuhkan andil dan karya perempuan untuk melahirkan kebijakan yang ramah bagi perempuan, anak, keluarga dan seluruh elemen bangsa.

Netty menyatakan, partisipasi perempuan adalah sebuah keniscayaan untuk  kehidupan yang lebih baik dan berkeadilan, bukan sekedar menuntut persamaan hak.

Di sisi lain, lanjut Netty, sampai hari ini angka kematian bayi maupun ibu dan rerata lama sekolah perempuan masih rendah. Sementara, jumlah keluarga pra sejahtera, tingkat kekerasan terhadap anak dan perempuan, serta kasus perdagangan perempuan dan jumlah pekerja anak di Indonesia juga masih tergolong tinggi.

Dengan demikian, sambungnya, kehadiran perempuan di parlemen, baik di tingkat kota/kabupaten, provinsi dan nasional diharapkan dapat memberikan kontribusi penyelesaian persoalan-persoalan krusial menyangkut perempuan, anak dan keluarga. 

“Kiprah perempuan di Parlemen harus memastikan hadirnya kebijakan publik pro rakyat,” terangnya.

Dengan tuntutan seperti itu, kata Netty yang pernah menjadi Ketua P2TP2A Jawa Barat, perempuan di Parlemen harus terus meningkatkan kualitas, kapasitas dan kompetensi, agar perannya dapat memberi manfaat bagi banyak orang. 

“Saat ini baru 119 perempuan dari total 575 Anggota DPR. Perlu upaya serius dari pemerintah, partai politik, dan elemen masyarakat guna meningkatkan jumlah perempuan anggota legislatif di DPR,” harapnya.






 

BERITA LAINNYA



Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan

Renovasi Pasar Kosambi Rampung Bulan November Ini
Senin 11 November 2019
Kota Bandung