Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan  




Senin 20 Mei 2019

03:34 WIB

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan
@prfmnews

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan
PRFMNewsChannel

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan
Selasa 30 April 2019, 18:45 WIB

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan
Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan




Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

Redaksi Oleh : Rizky Perdana
Foto Oleh : Rizky Perdana - PRFM

BANDUNG, (PRFM) – Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Jawa Barat tahun ini memasuki usia ke-24, namun puluhan tahun berdiri teman-teman disabilitas khususnya teman Tuli masih belum merasakan kesejahteraan layaknya masyarakat umum lainnya.

Nurul Afifah, seorang Tuli mengungkapkan banyak teman-teman Tuli yang memiliki kemampuan lebih, namun masyarakat dengan mudahnya menghakimi bahwa mereka tidak bisa apa-apa. Stigma tersebut berdampak negatif terhadap psikologis teman Tuli, bahkan bakat-bakat terpendam mereka pun hilang karena termakan ucapan masyarakat.

“Kadang ketika punya kemampuan melukis, orang lain merasa hal itu tidak terlalu penting, mereka lebih baik jadi OB lah yang lebih bermanfaat. Itu yang membuat kami merasa tersingkirkan, bahkan bakat kami hilang karena kami mengikuti pola orang-orang itu,” ujar Nurul.

Nurul mengakui, banyak teman-teman Tuli juga yang masih kesulitan saat mencari pekerjaan, banyak perusahaan menolak karena mereka Tuli. Sejauh ini ia menilai belum ada tempat kerja yang benar-benar memberi aksesibilitas kepada disabilitas Rungu.

Ia pun menceritakan temannya pernah merasakan pengalaman itu tepatnya saat mengikuti pelatihan kerja, ketika itu temannya tidak difasilitasi juru bahasa isyarat, apalagi untuk bekerja tidak ada akses sama sekali bagi disabilitas memahami informasi-informasi dalam pekerjaan.

“Saya juga punya pengalaman waktu saya kuliah, dosen bilang Nurul kamu bisa bahasa bibir, artinya kamu bisa komunikasi dengan orang dengar, bagi saya itu diskriminasi. Komunikasi ngga harus dengan bahasa bibir saja tapi juga harus dengan visual bahasa isyarat,” ucapnya.

Oleh karena itu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat soal potensi disabilitas Rungu, dalam rangka HUT Gerkatin Jabar ke-24 digelar berbagai acara seperti seminar, talkshow pendidikan dan ketenagakerjaan, bazar produk usaha difabel dan pengenalan bisnis untuk disabilitas oleh Gapura Digital, di Gedung Sate, Minggu (28/4/2019) kemarin.

Mengangkat tema “Aku dan Kamu Setara”, Nurul yang juga ketua panitia acara tersebut ingin membuktikan bahwa teman Tuli dan teman dengar pun bisa melakukan pekerjaan atau profesi yang setara. “Contoh, suami saya dia bisa mendesain, dan dari kemampuan itu suami saya bisa jadi pengusaha, buat desain kaos dan menjadi usaha teman-teman,” imbuhnya.

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

Peserta yang hadir dalam acara tersebut tidak hanya disabilitas, namun masyarakat umum juga hadir dan total pesertanya ternyata melebihi prediksi yakni hingga 150 orang. Artinya antusiasme masyarakat untuk memahami teman disabilitas mulai terlihat.

Nurul menuturkan, menjalani dunia bisnis pun menjadi alternatif bagi disabilitas agar bisa mandiri secara ekonomi. Maka dari itu, dia menghadirkan pelatihan bisnis dari Gapura Digital, yakni program yang diinisasi oleh Google Indonesia.  

“Tujuannya agar teman-teman punya pemahaman soal hal itu, ada budaya, kesadaran dan hak-hak Tuli, tapi juga ada informasi umum seperti Google Bisnis,” jelasnya.  

Menjadi wirausahawan memang sudah dilakukan beberapa teman-teman Tuli, namun sayangnya banyak dari mereka belum menjual produknya secara online. Padahal produk mereka cukup potensial untuk dijual ke pasar daring, seperti diungkapkan Relationship Officer Gapura Digital Bandung, Irwan Maulana.  

“Dari sisi produk mereka potensial, tapi belum online karena mereka kesulitan menyusun darimana mulai online. Nah ini peluang mencoba melalui Google My Business,” kata Irwan.  

Irwan menyebut program Google My Business dari Gapura Digital sangat ramah disabilitas, sebab tidak membutuhkan interaksi tatap muka atau interaksi suara, cukup melalui percakapan chatting online saja teman-teman Tuli bisa menjual produknya.  

Berjalan sejak Mei 2017 di Kota Bandung, Gapura Digital juga pernah memberi pelatihan bisnis online kepada teman-teman disabilitas lainnya. Saat itu baru sekitar 20 orang, tapi yang sekarang melonjak hingga seratusan lebih.  

“Gapura Digital punya modul diantaranya Google My Business, sifatnya bagaimana caranya teman pengusaha punya toko tapi bisa disearch di google, caranya harus diverifikasi, kaitannya dengan teman Tuli dari sisi online ini adalah peluang, karena sifatnya how to action, ini ramah disabilitas,” tegasnya.

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

 

BERITA TERKAIT


Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan
 

BERITA PILIHAN


Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

 

BERITA LAINNYA

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

Menhub: Akses Pintu Keluar Tol Disediakan Di Sepanjang Jalur One Way
Minggu 19 Mei 2019


Indonesia Taklukkan Inggris 4-1 di Piala Sudirman 2019
Minggu 19 Mei 2019 Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan Pemkab Bandung Akan Gelar Ramadan Fair 1440 H
Minggu 19 Mei 2019 Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan Karena Hal Ini, Petugas Sulit Memadamkan Api di Pasar Kosambi
Minggu 19 Mei 2019 Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan Seorang Petugas Damkar Sesak Nafas Saat Padamkan Api di Pasar Kosambi
Minggu 19 Mei 2019 Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan Oded Kunjungi Korban Longsor Hegarmanah
Minggu 19 Mei 2019 Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan Sebelum Tanding, Umuh Beri Motivasi Pemain Persib
Minggu 19 Mei 2019 Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

 

 

BERITA TERKAIT

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan
Selasa 30 April 2019, 18:45 WIB

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan
Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan


Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

Redaksi Oleh : Rizky Perdana
Sumber Foto : Rizky Perdana - PRFM


BANDUNG, (PRFM) – Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Jawa Barat tahun ini memasuki usia ke-24, namun puluhan tahun berdiri teman-teman disabilitas khususnya teman Tuli masih belum merasakan kesejahteraan layaknya masyarakat umum lainnya.

Nurul Afifah, seorang Tuli mengungkapkan banyak teman-teman Tuli yang memiliki kemampuan lebih, namun masyarakat dengan mudahnya menghakimi bahwa mereka tidak bisa apa-apa. Stigma tersebut berdampak negatif terhadap psikologis teman Tuli, bahkan bakat-bakat terpendam mereka pun hilang karena termakan ucapan masyarakat.

“Kadang ketika punya kemampuan melukis, orang lain merasa hal itu tidak terlalu penting, mereka lebih baik jadi OB lah yang lebih bermanfaat. Itu yang membuat kami merasa tersingkirkan, bahkan bakat kami hilang karena kami mengikuti pola orang-orang itu,” ujar Nurul.

Nurul mengakui, banyak teman-teman Tuli juga yang masih kesulitan saat mencari pekerjaan, banyak perusahaan menolak karena mereka Tuli. Sejauh ini ia menilai belum ada tempat kerja yang benar-benar memberi aksesibilitas kepada disabilitas Rungu.

Ia pun menceritakan temannya pernah merasakan pengalaman itu tepatnya saat mengikuti pelatihan kerja, ketika itu temannya tidak difasilitasi juru bahasa isyarat, apalagi untuk bekerja tidak ada akses sama sekali bagi disabilitas memahami informasi-informasi dalam pekerjaan.

“Saya juga punya pengalaman waktu saya kuliah, dosen bilang Nurul kamu bisa bahasa bibir, artinya kamu bisa komunikasi dengan orang dengar, bagi saya itu diskriminasi. Komunikasi ngga harus dengan bahasa bibir saja tapi juga harus dengan visual bahasa isyarat,” ucapnya.

Oleh karena itu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat soal potensi disabilitas Rungu, dalam rangka HUT Gerkatin Jabar ke-24 digelar berbagai acara seperti seminar, talkshow pendidikan dan ketenagakerjaan, bazar produk usaha difabel dan pengenalan bisnis untuk disabilitas oleh Gapura Digital, di Gedung Sate, Minggu (28/4/2019) kemarin.

Mengangkat tema “Aku dan Kamu Setara”, Nurul yang juga ketua panitia acara tersebut ingin membuktikan bahwa teman Tuli dan teman dengar pun bisa melakukan pekerjaan atau profesi yang setara. “Contoh, suami saya dia bisa mendesain, dan dari kemampuan itu suami saya bisa jadi pengusaha, buat desain kaos dan menjadi usaha teman-teman,” imbuhnya.

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

Peserta yang hadir dalam acara tersebut tidak hanya disabilitas, namun masyarakat umum juga hadir dan total pesertanya ternyata melebihi prediksi yakni hingga 150 orang. Artinya antusiasme masyarakat untuk memahami teman disabilitas mulai terlihat.

Nurul menuturkan, menjalani dunia bisnis pun menjadi alternatif bagi disabilitas agar bisa mandiri secara ekonomi. Maka dari itu, dia menghadirkan pelatihan bisnis dari Gapura Digital, yakni program yang diinisasi oleh Google Indonesia.  

“Tujuannya agar teman-teman punya pemahaman soal hal itu, ada budaya, kesadaran dan hak-hak Tuli, tapi juga ada informasi umum seperti Google Bisnis,” jelasnya.  

Menjadi wirausahawan memang sudah dilakukan beberapa teman-teman Tuli, namun sayangnya banyak dari mereka belum menjual produknya secara online. Padahal produk mereka cukup potensial untuk dijual ke pasar daring, seperti diungkapkan Relationship Officer Gapura Digital Bandung, Irwan Maulana.  

“Dari sisi produk mereka potensial, tapi belum online karena mereka kesulitan menyusun darimana mulai online. Nah ini peluang mencoba melalui Google My Business,” kata Irwan.  

Irwan menyebut program Google My Business dari Gapura Digital sangat ramah disabilitas, sebab tidak membutuhkan interaksi tatap muka atau interaksi suara, cukup melalui percakapan chatting online saja teman-teman Tuli bisa menjual produknya.  

Berjalan sejak Mei 2017 di Kota Bandung, Gapura Digital juga pernah memberi pelatihan bisnis online kepada teman-teman disabilitas lainnya. Saat itu baru sekitar 20 orang, tapi yang sekarang melonjak hingga seratusan lebih.  

“Gapura Digital punya modul diantaranya Google My Business, sifatnya bagaimana caranya teman pengusaha punya toko tapi bisa disearch di google, caranya harus diverifikasi, kaitannya dengan teman Tuli dari sisi online ini adalah peluang, karena sifatnya how to action, ini ramah disabilitas,” tegasnya.


 

BERITA LAINNYA



Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

Pemkab Bandung Akan Gelar Ramadan Fair 1440 H
Minggu 19 Mei 2019
Kabupaten Bandung


Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

Oded Kunjungi Korban Longsor Hegarmanah
Minggu 19 Mei 2019
Kota Bandung


Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan

 

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan  TWITER @prfmnews





 

BERITA PILIHAN

 

Kurang Perhatian, Teman Tuli Masih Merasa Diasingkan