Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)  




Rabu 16 Oktober 2019

23:35 WIB

Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)
@prfmnews

Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)
PRFMNewsChannel

Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)

Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)
Sabtu 21 September 2019, 15:50 WIB

Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)
Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)




Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)

Redaksi Oleh : Iqbal Pratama
Foto Oleh : PRFM

BANDUNG, (PRFM) - Era disrupsi singkatnya merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata berlaih ke dunia maya. Lebih jauh lagi, Guru besar Harvard Business School, Clayton M. Cristhensen melalui bukunya yang berjudul The Innovator Dilemma (1997) menerangkan disrupsi adalah perubahan besar yang mengubah tatanan.  Fenomena menjamurnya e-Comerce hari ini merupakah salah satu contoh disrupsi.

Kajian tentang disrupsi memang awalnya lebih banyak terjadi pada dunia bisnis atau persaingan usaha. Namun tidak semata pada bisnis,  hal ini juga mempengaruhi perilaku komunikasi masyarakat yang biasa menikmati santapan informasi melalui media massa mainstream, kini berlaih ke digital. Tidak hanya koran, media elektronik seperti radio dan televisi pun perlu bersiap.  

Fenomena ini pun tentunya didukung karena munculnya teknologi digital yang memudahkan aktifitas masyarakat.  Satu sentuhan di layar handphone, kini diibaratkan seolah langsung mendapat jutaan informasi didalamnya. Bisa kita lihat bagaimana perkembangan media online hari ini yang begitu pesat karena mampu menyajikan informasi yang aktual.  

Namun hal itu juga masih tak cukup, kecepatan atau aktualitas media pada kenyataannya bisa diimbangi dengan audiensnya sendiri.

Beberapa platform media sosial hari ini sudah memfasilitasi itu, imbasnya seseorang yang bukan dari kalangan media atau bekerja berlembaga pada suatu media pun sekarang sudah bisa menjadi sumber informasi bagi orang lain.

Contohnya fitur live streaming pada Instagram, dalam suatu kondisi seseorang dihadapkan langsung pada kejadian besar atau luar biasa, dirinya bisa langsung menyebarkan kejadian itu kepada audiens, bahkan tak jarang pula media massa menjadikan itu sebagai sumber untuk beritanya.

Masih banyak lagi akun media sosial yang menjelma menjadi media namun sejatinya belum sah menjadi media massa namun itu banyak diminati masyarakat. 

Beranjak dari hal itu, kita akhirnya tahu bahwa era disrupsi tentunya berdampak besar pada perkembangan media hari ini. Lantas apa yang perlu dilakukan media ? jawabannya adalah inovasi.

Namun memaknai apa itu  inovasi, terkadang salah sasaran padahal inovasi yang baik idealnya bukan merubah keseluruhan pola media massanya, karena  setiap media punya keunggulan dan punya ciri. Banyak kita temui sejumlah media dengan dalih berinovasi malah menurunkan kualitas isi kontennya.  Dengan anggapan yang penting “kekinian” dan mencoba memfasilitasi kebutuhan generasi milenial, malah akhirnya tidak jelas tujuan dan “kebablasan”. 


Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)

Perkembangan teknologi dan perilaku disrupsi ini bukan hanya untuk sebagian kalangan saja terutama yang sering jadi patokannya adalah generasi milenial. Padahal tidak seperti itu, imbas disrupsi itu universal  jadi jangan lupakan siapa pecinta media anda, siapa target, segmentasi dan lainnya yang selama ini membuat media massa dibutuhkan oleh mereka.

Kembali pada apa yang dimaksud era disrupsi adalah fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata berlaih ke dunia maya.  Dari sini kita semestinya tahu bahwa yang dibutuhkan adalah platform medianya  dari yang dahulu konvensional kemudian ada kebutuhan dan ada harapan agar itu berpindah ke dunia maya (digital).

Jadi inovasi seharusnya lebih diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat akan platform baru yaitu platform digital. Misalnya, koran hari ini selayaknya sudah memiliki koran digital kemudian radio yang biasanya hanya mengandalkan frekuensi terestrial (analog) kini juga menyediakan radio streaming digital.

Istilah konten adalah raja “content is the king” nampaknya cukup relevan dengan hal ini. Sebaiknya Inovasi diringi dengan mempertahakan konten yang sudah baik dan disukai selama ini atau mencoba memikirkan konten apa lagi yang layak dan memiliki daya jual di masyarakat tanpa menghilangkan marwah media massa. 

Jangan sampai kita hanya panik saja dengan keadaan sehingga lupa akan peran media massa selama ini.  Kita pun perlu mencermati jika media hanya menghadirkan sebatas informasi, sudah banyak audiens yang bisa melakukan itu dengan adanya perkembangan teknologi saat ini.

Disrupsi memang membawa konsekuensi pada cara dan pendekatan baru, hal ini karena khalayak dan lanskap yang berubah baik itu dibidang komunikasi, bisnis dan lainnya. Namun itu membawa kita pada era yang mengasah kemampuan berfikir dan berinovasi manuisa lebih maju.
Iqbal Pratama (Praktisi Media, Wakil Pemimpin Redaksi PRFM)









 

BERITA TERKAIT


Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)
 

BERITA PILIHAN


Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)

 

BERITA LAINNYA

Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)

Debut Pahit Tavarez Bersama Persija
Rabu 16 Oktober 2019


PHRI Jabar Prediksi Kunjungan Wisman ke Bandung akan Meningkat pada 2021
Rabu 16 Oktober 2019 Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI) Polres Bandung Berikan Bantuan Air Bersih untuk Warga Kiangroke
Rabu 16 Oktober 2019 Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI) Soal Polemik Jabatan Sekda, Pemkot Ajukan Banding Tanpa Bukti Baru
Rabu 16 Oktober 2019 Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI) Heboh Crosshijaber, MUI Jabar: Tangkap dan Langsung Interogasi
Rabu 16 Oktober 2019 Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI) Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan
Rabu 16 Oktober 2019 Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI) Tambah Kekuatan Fisik, Persib Berlatih Dua Kali dalam Sehari
Rabu 16 Oktober 2019 Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)

Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)

 

 

BERITA TERKAIT

Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI) Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)

Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)
Sabtu 21 September 2019, 15:50 WIB

Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)
Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)


Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)

Redaksi Oleh : Iqbal Pratama
Sumber Foto : PRFM


BANDUNG, (PRFM) - Era disrupsi singkatnya merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata berlaih ke dunia maya. Lebih jauh lagi, Guru besar Harvard Business School, Clayton M. Cristhensen melalui bukunya yang berjudul The Innovator Dilemma (1997) menerangkan disrupsi adalah perubahan besar yang mengubah tatanan.  Fenomena menjamurnya e-Comerce hari ini merupakah salah satu contoh disrupsi.

Kajian tentang disrupsi memang awalnya lebih banyak terjadi pada dunia bisnis atau persaingan usaha. Namun tidak semata pada bisnis,  hal ini juga mempengaruhi perilaku komunikasi masyarakat yang biasa menikmati santapan informasi melalui media massa mainstream, kini berlaih ke digital. Tidak hanya koran, media elektronik seperti radio dan televisi pun perlu bersiap.  

Fenomena ini pun tentunya didukung karena munculnya teknologi digital yang memudahkan aktifitas masyarakat.  Satu sentuhan di layar handphone, kini diibaratkan seolah langsung mendapat jutaan informasi didalamnya. Bisa kita lihat bagaimana perkembangan media online hari ini yang begitu pesat karena mampu menyajikan informasi yang aktual.  

Namun hal itu juga masih tak cukup, kecepatan atau aktualitas media pada kenyataannya bisa diimbangi dengan audiensnya sendiri.

Beberapa platform media sosial hari ini sudah memfasilitasi itu, imbasnya seseorang yang bukan dari kalangan media atau bekerja berlembaga pada suatu media pun sekarang sudah bisa menjadi sumber informasi bagi orang lain.

Contohnya fitur live streaming pada Instagram, dalam suatu kondisi seseorang dihadapkan langsung pada kejadian besar atau luar biasa, dirinya bisa langsung menyebarkan kejadian itu kepada audiens, bahkan tak jarang pula media massa menjadikan itu sebagai sumber untuk beritanya.

Masih banyak lagi akun media sosial yang menjelma menjadi media namun sejatinya belum sah menjadi media massa namun itu banyak diminati masyarakat. 

Beranjak dari hal itu, kita akhirnya tahu bahwa era disrupsi tentunya berdampak besar pada perkembangan media hari ini. Lantas apa yang perlu dilakukan media ? jawabannya adalah inovasi.

Namun memaknai apa itu  inovasi, terkadang salah sasaran padahal inovasi yang baik idealnya bukan merubah keseluruhan pola media massanya, karena  setiap media punya keunggulan dan punya ciri. Banyak kita temui sejumlah media dengan dalih berinovasi malah menurunkan kualitas isi kontennya.  Dengan anggapan yang penting “kekinian” dan mencoba memfasilitasi kebutuhan generasi milenial, malah akhirnya tidak jelas tujuan dan “kebablasan”. 


Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)

Perkembangan teknologi dan perilaku disrupsi ini bukan hanya untuk sebagian kalangan saja terutama yang sering jadi patokannya adalah generasi milenial. Padahal tidak seperti itu, imbas disrupsi itu universal  jadi jangan lupakan siapa pecinta media anda, siapa target, segmentasi dan lainnya yang selama ini membuat media massa dibutuhkan oleh mereka.

Kembali pada apa yang dimaksud era disrupsi adalah fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata berlaih ke dunia maya.  Dari sini kita semestinya tahu bahwa yang dibutuhkan adalah platform medianya  dari yang dahulu konvensional kemudian ada kebutuhan dan ada harapan agar itu berpindah ke dunia maya (digital).

Jadi inovasi seharusnya lebih diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat akan platform baru yaitu platform digital. Misalnya, koran hari ini selayaknya sudah memiliki koran digital kemudian radio yang biasanya hanya mengandalkan frekuensi terestrial (analog) kini juga menyediakan radio streaming digital.

Istilah konten adalah raja “content is the king” nampaknya cukup relevan dengan hal ini. Sebaiknya Inovasi diringi dengan mempertahakan konten yang sudah baik dan disukai selama ini atau mencoba memikirkan konten apa lagi yang layak dan memiliki daya jual di masyarakat tanpa menghilangkan marwah media massa. 

Jangan sampai kita hanya panik saja dengan keadaan sehingga lupa akan peran media massa selama ini.  Kita pun perlu mencermati jika media hanya menghadirkan sebatas informasi, sudah banyak audiens yang bisa melakukan itu dengan adanya perkembangan teknologi saat ini.

Disrupsi memang membawa konsekuensi pada cara dan pendekatan baru, hal ini karena khalayak dan lanskap yang berubah baik itu dibidang komunikasi, bisnis dan lainnya. Namun itu membawa kita pada era yang mengasah kemampuan berfikir dan berinovasi manuisa lebih maju.
Iqbal Pratama (Praktisi Media, Wakil Pemimpin Redaksi PRFM)





 

BERITA LAINNYA



Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)

Debut Pahit Tavarez Bersama Persija
Rabu 16 Oktober 2019
Liga 1 2019


Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)

Soal Polemik Jabatan Sekda, Pemkot Ajukan Banding Tanpa Bukti Baru
Rabu 16 Oktober 2019
polemik sekda kota bandung


Inovasi Media di Era Disrupsi “Kebablasan” (OPINI)

Perempuan dan Parlemen Tak Bisa Dipisahkan
Rabu 16 Oktober 2019
DPR RI